Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Agustus 2011

Sekte Wahhabiyah Di Mata Ulama Ahlusunnah

Wahhâbiyah Dan Doktrin Pengkafiran Kaum Muslimin
Secara umum penentang Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb -pendiri sekte Wahhâbiyah- dan aliran bentukannya dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok.

Pertama, Mereka yang berlebihan dalam mencaci-maki aliran ini sehingga mengafirkannya dan juga pendirinya. Dengan tidak mereka sadari mereka telah terjatuh dalam jurang pengafiran sebagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan para pengikutnya terjatuh di dalamnya. Walaupun jarang kita temukan Ulama Ahlusunnah yang mengafirkan Sekte Sempalan ini.
Kedua, Mereka yang menggolongkan Wahhâbiyah sebagai “Sekte bid’ah yang sesat”, namun mereka tidak mengafirkannya. Mereka mengecam doktrin Sekte ini yang tak segan-segan menjulurkan lidah mereka untuk mengafirkan sesama Muslim dengan alasan-alasan yang naïf.
Ketiga, Mereka yang mengakui sebagian jasa-jasa sekte ini dan tidak menggolongkannya dala daftar hitam sekte sesat apalagi kafir, akan tetapi mereka mengkritik doktin pendirinya yang terlalu memperlebar peta pengafiran atas sesama Muslim dan menghalalkan memerangi dan mencucurkan darah-darah suci mereka dengan tuduhan bahwa mereka telah kafir/musyrik.
Kelompok ketiga ini sebenarnya tidak layak digolongkan sebagai musuh-musuh dan penentang aliran Wahhâbiyah, namun disayangkan bahwa kaum Wahhâbiyah sendiri menggolongkan mereka dalam daftar musuh-musuh mereka dan tidak segan-segan mengafirkan mereka!
Tuduhan Para Ulama Islam Terhadap Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb
Banyak sekali tuduhan dan kecaman ulama Islam atas Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan doktrin-doktrinnya, di antara tuduhan yang paling akurat dan paling berbahaya adalah mereka menuduh Syeikh terlalu melebarkan peta pemusyrikan dan pengafiran sesama Muslim yang tidak sependapat dengannya, sampai-sampai, mereka yang simpatik dengan da’wah dan ajakan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb-pun serta para pendukung setianya dari kalangan ulama Salafiyyîn tidak mampu menolak tuduhan ini. Seperti Syeikh asy Syawkani, misalnya, kendati dalam sisi konsep Tauhid ia sangat Salafy sesuai dengan pengakuan kaum Wahhâbi sendiri, dan sangat fanatik membela ajakan Wahhâbiyah dan pujiannya terhadap pendirinya; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb-, namun demikian ia tak kuasa kecuali mengatakan:
و لَكِنَّهُم يَرَوْنَ أنَّ مَنْ لَمْ يَدْخُلْ تَحْتَ دَوْلَةِ طاحِبِ نَجْد، مُمَثِّلاً لأَوامِرِهِ، فَهُوَ خارِجٌ عَنِ الإسْلامِ.
“Akan tetapi mereka berpandangan bahwa siapa yang tidak masuk/bergabung di bawah kekauasaan penguasa Najd (keluarga Sau’d) dengan melaksanakan perintah-perintahnya maka ia keluar dari Islam.” (Al Badru ath Thâli’,2/5)
Demikian juga dengan Manshûr al Hâzimi-seorang ulama Salafy-, kendati ia banyak memuji Syeikh Ibnu Abdil Wahhâbi, akan tetapi ia mengeritknya dalam dua hal, pertama, pengafiran Ahli Kiblat (Kaum Muslimin) dengan sekedar pemelintiran terhadap masalah yang sedang disengketakan…., kedua, pencucuran darah-darah kaum Muslimin yang seharusnya dihormati, dengan tanpa hujjah yang jelas dan bukti yang membenarkannya. (Abjad al ‘Ulûm,3/193).
Begitu juga halnya dengan Syeikh Muhammad Hasan Shadiq Khan -seorang Salafy- ia telah terang-terangan menyatakan bahwa Ahli Hadis telah berlepas diri dari Wahhâbiyah dikarenakan mereka tidak dikenal melainkan dengan sikap keras dan gegabah dalam mencucurkan darah-darah suci kaum Muslimin. (baca Daâwi al Munâwi’în:160)
Tentunya kaum Wahhâbi, dulu dan sekarang pasti akan menolak tuduhan ini dengan berbagai alasan, mulai dari menuduh sumber tuduhan itu adalah sumber Kristen, seperti dilakukan Doktor Abdul Aziz Al Abdil Lathîf! Sementara itu sumber-sumber sejarah yang ditulis para penulis Wahhâbiyah sendiri mengakuinya, seperti yang diakui Ibnu Ghunnâm dalam kitab Tarikh-nya, bahwa lebih dari 300 kali peperangan dikobarkan kaum Wahhâbi atas kaum Muslimin dari kelompok lain; Ahlusunnah maupun Syi’ah, dan pada setiap kalinya ia mengatakan demikian, “Pada tahun ini kaum Muslimin telah berperang melawan kaum kafir…”
seperti kita maklumi bahwa peperangan yang dikobarkan kaum Wahhâbi itu adalah peperangan antara gerombolan pengikut Wahhâbiyah dan kaum Muslimin di berbagai daerah di sekitar kota Najd, Hijaz, Ahsâ’, Iraq. Dan sejarah tidak pernah mencatat bahwa kaum Wahabiyah ini mengangkat senjata mereka melawan kaum kafir; Yahudi dan atau Nashrani. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak seharusnya dibantah oleh para Ghulât; Ekstirimis Wahhâbiyah sekarang! Sebab membela para pendahulu mereka dalam setiap sepak terjang mereka adalah ghuluw atau sikap berlebihan dalam mengultus!!
Tetapi apa hendak dikata Para Ekstirimis Wahhâbiyah tidak pernah mau menerima penukilan data sejarah selain dari kelompok mereka sendiri, mereka menolak semua bukti sejarah yang dibawakan ulama Ahlusunnah yang berselisih pandangan dengan Wahhâbiyah… seakan mereka akan memaksa kita untuk memahami apa yang terjadi saat itu di sana dengan kaca mata Wahhâbiyah! Seakan kaum Muslimin dari kelompok lain itu adalah kaum Kafir Quraisy di hadapan Nabi saw.!!! Ini adalah sikap berlebihan, ghuluw. Jadi pada akhirnya, apa yang dikatakan para penentang Wahhâbiyah itu benar dalam tuduhan mereka bahwa Wahhâbiyah adalah kaum Penebar Teror Pengafiran dan Pengobar Peperangan Sesama Kaum Muslimin!!!
Di antara mereka yang masih tergolong netral dalam menyikapi Wahhâbiyah adalah Syeikh Anwar Syah Kasymiri… namun demikian ia tidak bisa mendiamkan sikap gegabah Wahhâbiyah dalam menvonis kafir atas kaum Muslimin selain kelompok mereka! (baca Daâwi al Munâwi’în:160).
Komentar Para Ulama Sunni
Adapun komentar-komnetar ulama Sunni tentang Sekte Wahhâbiyah sangat banyak sekali, karenanya kami akan batasi dengan menyebutkan beberapa saja darinya:
1. Syeikh Sunni Hanbali Ibnu ‘Afâliq berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Ia bersumpah dengan sumpah palsu bahwa kaum Yahudi dan Musyrikin lebih baik keadaan keberagamaan mereka dibanding kaum Muslimin.” (Daâwi al Munâwi’în:164)
Dan tuduhan ini bukan tidak berdasar, ia dapat dengan mudah kita temukan dalam penegasan-penegasan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sendiri, seperti ketika ia mengatakan bahwa “Kaum Musyrikin zaman kita (maksudnya adalah kamu Muslimin dari kelompk lain yang berbeda dengannya) itu lebih kafir dari kaum kafir Quraisy…” yang jelas bahwa kaum kafir Quraisy itu lebih kafir dari Ahlil Kitab; Yahudi dan Nashrani! Jadi kaum Muslimin lebih jelak dari Ahlil Kitab!!
Karenanya tidaklah heran jika Abdul Aziz Al Abdil Lathîf mengolongkan Syeikh mulia Ibnu ‘Afâliq yang Sunni dan Hanbali itu sebagai pembohong besar!!! Mengapa harus begitu, sementara penegasan-penegasan Ibnu Abdil Wahhâb sendiri sangat jelas dalam masalah ini, seperti dapat Anda jumpai dalam kitab Kasyfu asy Syubuhât.
2. Syeikh Sunni Hanbali Sulaiman ibn Sahîm berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Barang siapa tidak menyetujinya dalam semua yang ia katakan dan bersaksi bahwa apa yang ia bawa itu haq, maka ia pastikan orang itu adalah kafir! Dan barang siapa membenarkannya dalam semua yang ia katakan, maka ia berkata, ‘Engkau adalah seorang pengesa Allah, muwahid! walaupun ia seorang yang fasik total!” (Daâwi al Munâwi’în:164)
Syeikh Sunni Hanbali, Salafy, Najdy Utsman ibn Manshûr-salah seorang qadhi pada masa kekuasan Dinasti Keluarga Sa’ud Kedua-[1] berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Allah telah menimpakan balâ’/cobaan/bencana atas penduduk Najd bahkan seluruh penduduk Jazirah Arabiyah dengan bangkitnya seorang atas mereka dan upaya getolnya dalam mengafirkan umat Islam, yang khusus maupun yang umum… dengan menghias alasan yang tidak pernah diwahyukan Allah!” Ia juga berkata, “Tetapi orang ini (Ibnu Abdil Wahhâb) menjadikan keta’atan kepadanya adalah salah sebuah rukum Islam.” (Daâwi al Munâwi’în:166)
3. Syeikh Sulaiman ibn Abdil Wahhâb -saudara kandung Muhammad ibn Abdil Wahhâb, pendiri sekte Wahhâbiyah- berkata tentang saudaranya; Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, “Berapa rukun Islam hai Muhammad ibn Abdil Wahhâb? Ia menjawab ‘Lima.’ Ya tetapi engkau menjadikannya enam, yang keenam adalah: Barang siapa tidak mengikutimu maka ia bukan seorang Muslim. Ini adalah rukun Islam keenam milikmu.” (Daâwi al Munâwi’în:166)
Apa yang dikatakan Syeikh Sulaiman tentunya bukan sebuah dialoq yang berlangsung antara kedua saudara ini. Ibnu Abdil Wahhâb tidak mengatakan dengan redaksi terang seperti itu, akan tetapi ia adalah kesimpulan dari syarat-syarat rumit yang ditetapkannya untuk menjadi seorang Muslim! Dan kesimpulan itu dapat dibuktikan dari pernyataan pendiri Sekte Wahhâbiyah ini!
4. Syeikh az Zahhâwi berkata, “Jika ada yang bertanya, ‘apa mazhabnya kaum Wahhâbiyah? Apa tujuannya? Lalu kami jawab kedua pertanyaan itu dengan; Pengafiran seluruh kaum Muslimin. Pastilah jawaban itu sangat tepat untuk memperkenalkan sejatinya mazhab Wahhâbiyah kendati ia ringkas!!” (Daâwi al Munâwi’în:167)
5. Syeikh Ahmad Zaini Dahlân -mufti Mazhab Syafi’iyah di kota Makkah- berkata tentang Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan para penganutnya, “Mereka tidak meyakini adanya seorang muwahhid (yang mengesakan Allah SWT) selain yang mengikuti mereka dalam pandangan-pandangan mereka.” (Daâwi al Munâwi’în:166)
6. Sayyid Sunni Alawi ibn Ahmad al Hadad al Hadhrami berkata, “Jika ada seorang ingin masuk ke dalam agamanya, ia akan mengatakan, ‘Bersaksilah bahwa engkau dahulu adalah kafir dan bersaksilah bawa kedua orang tuamu mati dalam keaadaan kafir, bersaksilah bahwa si alim fulan anu dan anu itu kafir… jika ia bersaksi atas itu semua maka ia (Ibnu Abdil Wahhâb) akan menerimanya, dan jika tidak ia akan membunuhnya… . setelahnya Sayyid al Haddad melanjutkan, “Bagaimana engkau tidak puas dengan orang yang masih hidup dengan menuduh mereka Musyrikûn, sehingga engkau meneruskannya kepada yang sudah mati bertahun-tahun dengan engkau mengatakan bahwa mereka mati dalam keadaan sesat yang menyesatkan sampai-sampai engkau menyebut nama-nama ulama-ulama besar dan para muhaqqîn.” (Daâwi al Munâwi’în:165)
7. Syeikh Sunni Hasan asy Syatha ad Dimasyqi berkata, “Poros da’wah Wahhâbiyah adalah pengafiran kaum Muslimin… .” (Daâwi al Munâwi’în:165)
Demikianlah kita saksikan bagaimana semua penentang Syeikh baik dari kalangan Asya’irah maupun Salafiyîn, seperti Asy Syawkâni, Ash Shan’âni dan Utsman ibn Manshûr telah bersepakatan mengatakan bahwa Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb dan para pengikutnya sangat berlebihan dalam sikap pengafiran sesama kaum Muslimin, baik para ulama maupun kaum awam. Dan na’asnya, apa yang mereka katakan itu dapat dengan mudah kita temukan dalam kitab-kitab Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb sendiri.
Begitu juga dengan para ulama dari mazhab selain Ahlusunnah, seperti Syi’ah dan Ibadhiyah juga menegaskannya!
Jadi, harapan kami ialah hendaknya para Misionaris dan juru da’wah Sekte Wahhâbiyah mengakui kenyataan ini dan tidak menampakkan keengganan menerimanya apalagi berusaha membelanya… doktrin pengafiran sesama Kaum Msulimin adalah sangat kental dalam ajaran Ibnu Abdil Wahhâb dan para pelanjutnya… Ini adalah sebuah kenyataan yang tak mungkin dipungkiri!!!
Mengakui kesalahan itu lebih baik dari pada mempertahankannya dengan menampakkan kedegilan sikap dan fanatisme membabi-buta… Akui saja itu sebagai sebuah kesalahan Syeikh kalian, dan kalian tidak akan mengikuti kesalahan sikap dan pendapatnya… Bukankan Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb -pendiri Sekte Wahhâbiyah- itu manusia biasa yang bisa salah dan tergelincir?! Bukankah ia juga mengecam mengikuti dan bertaqlid kepada para ulama dan fuqaha’ dalam seluruh pendapat dan sikapnya?! Kami yakin bahwa ia juga tidak akan setuju dengan sikap kaum Wahhâbiyah sekarang yang masih bersikeras mengikutinya dalam kesalahan doktrin pengafiran kaum Muslimin selain Wahhâbi!
Itu adalah sikap ghuluw yang tak henti-hentinya dikecam Syeikh sendiri semasa hidupnya!
Salam sehajtera atas yang mau merendahkan hatinya mengikuti kebenaran Allah!
****************************************
Siapakah Wahhabi?
Penulis: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc
Tuduhan: Mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka.[7]
Bantahan: - Ini merupakan tuduhan dusta terhadap Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karena beliau pernah mengatakan: Kalau kami tidak (berani) mengkafirkan orang yang beribadah kepada berhala yang ada di kubah (kuburan/ makam) Abdul Qadir Jaelani dan yang ada di kuburan Ahmad Al-Badawi dan sejenisnya, dikarenakan kejahilan mereka dan tidak adanya orang yang mengingatkannya. Bagaimana mungkin kami berani mengkafirkan orang yang tidak melakukan kesyirikan atau seorang muslim yang tidak berhijrah ke tempat kami…?! Maha suci Engkau ya Allah, sungguh ini merupakan kedustaan yang besar.” (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlihun Mazhlumun Wa Muftara ‘Alaihi, hal. 203)
lihat: blog muhawiid.wordpress.com
Abu Salafy berkata:
Coba Anda perhatikan wahai saudaraku, bagaimana Syaikh Ibnu Abdil Wahhab ketika mengelak dan membela diri dari tudingan Pengkifarn kaum Muslimin, ia justru masih tak kuasa menyembunyikan kayakinnya dalam mengafirkan kaum Muslimin dengan menuduh mereka menyembah berhala yang ada di kuburan Syaikh Abdul Qadir al Jilani di Iraq dan Sayyid Ahmad al Badawi di Mesir! Padahal seperti dimaklumi bahwa kaum Muslimin pecinta para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang shaleh yang dengan penuh kerinduan menziarahi makam mereka dan mungkin banyak di antara mereka yang mencium batu nisan makam-makan para Wali Allah dituduhnya sebagai menyembah berhala!!! Dan menyebut nisan itu sebagai berhala!!
Adakah pengafiran yang lebih terang dari itu? sementara itu ia dengan kata-kata dusta mengatakan tidak mengafirkan mereka? Lalu bagaimana bayangan kita ketika ia berkata-kata ketika tidak sedang membala diri?! Pasti lebih tegas lagi menyeramkan! Dapatkah Ibnu Abdil Wahhab dan para Muqallid butanya mengatakan bahwa di kuburun para Waliyullah itu terdapat berhala yang disembah para peziarahnya? Berhala yang ia maksud tiada lain adalah batu nisam…. Dan praktik mengusap dan atau menciumnya di golongkannya sebagai menyembah selain Allah SWT. Jadi merek adalah kaum Musyrikûn! Kendati disini ia mengatakan bahwa mereka diselamatkan dari hukum kemusyrikan (ala Wahhabiyah ) itu dikarenakan kejahilan mereka akan hkikat apa yang mereka kerjakan, namun dalam banyak kesempatan dan komentarnya, Ibnu Abdil Wahhâb tidak mengecualikan mereka yang jahil/bodoh dari hukum dan status kemusyrikan!!
Syeikh Utsman ibn Manshûr adalah seorang ulama Wahhabiyah bermazhabkan Hanbali dan berpikiran salafy, serta bekerja untuk Dinasti Keluarga Sa’ud. Ia banyak mendapatkan pujian dari para ulama Wahhabiyah seperti al Bassâm, Bakr Abu Zaid dan Shaleh al Qâdhi, akan tetapi akhirnya ia harus menuai kecaman keras dari Ekstrimis Wahhabiyah, semua kedekatan dan kelutusan serta keteguhannya terhadap Da’wah Wahhabiyah tidak mampu menyelamatkannya, sebab mereka hanya akan berdamai dengan siapa yang memuja dan menyanjung Ibnu Abdil Wahhab -pendiri Sekte Wahhabiyah- saja!
Adapun yang mengkritiknya maka nasib mereka adalah kecaman dan laknatan. Sementara itu para Ekstrimis Wahhabiyah tidak akan malu-malu berhujjah dengan komentar seorang seperti al Qashîmi -yang pada akhir hayatnya menjadi seoranmg Ateis-, sebab ia memuji Ibnu Abdil Wahhab!! Itulah logika Ekrtimisme Wahhabiyah yang sedang gentanyangan sekarang mengatas namakan Salafy pemurni ajaran Nabi saw.! Semoga umat Islam diselamatkan dari kejahatnnya, amin.!

Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahahâbiyah Kafir/Musyrik! (1)

Ibnu Abdil Wahhâb: Selain Wahahâbiyah Kafir/Musyrik! (1)
Mungkin Anda keberatan dan menganggap judul di atas berlebihan dan tidak ilmiah, atau bersifat provokatif. Mungkin anda menuduh komentar para pembesar ulama Islam yang membongkar kedok hakikat pondasi da’wah Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb seperti pada tulisan kami sebelumnya Wahhâbiyah Dan Doktrin Pengkafiran Kaum Muslimin adalah sebuah kepalsuan belaka dan hanya muncul dari para ulama Sû’ (demikian biasa dilontarkan kaum Wahhâbiyah, para muqallid Ibnu Abdil Wahhâb).

Akan tetapi apabila Anda mengenal hakikat Da’wah Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb yang sebenarnya tanpa perahasiaan dan atau “sungkan-sungkan”, maka Anda tidak akan keberatan atau menganggapnya sebuah hasutan.
Mungkin selama ini Anda hanya mengenal metode Da’wah Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb yang telah direvisi oleh para Misionaris Wahhâbiyah agar tidak menimbulkan keresahan di tengah-tengah umat Islam…. Akan tetapi coba renungkan Doktrin Teror Pengafiran yang ditebar Ibnu Abdil Wahhâb -Pendiri Sekte Wahhâyah- pasti Anda tahu siapa dan bagaiaman sebenarnya Doktrin Sekte Wahhâbiyah ini!
Pendahulan:
Setelah anda membaca bagaimana kesaksian para ulama pendukung Wahhâbiyah dan para penentangnya tentang kentalnya doktrin pengafiran kaum Muslimin selain pengikut Wahhâbiyah, kini pembaca kami ajak melihat dan memperhatikan tajamnya doktrin pengafiran itu secara langsung dari pernyataan dan fatwa Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb.
Kali ini, kajian akan kita fokuskan pada kitab Ad-Durar as-Saniyyah Fi al-Ajwibah an-Najdiyah. Kitab tersebut adalah kumpulan surat-surat dan jawaban atas pertanyaan ulama kota Najd sejak masa hidup Syeikh Muhammad ibn Abdil Wahhâb hingga sebelum tahun 1392 H. yang dirangkum oleh Syeikh Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Qâsim al Hanbali an Najdi (W.1392H). Buku tersebut pernah dijadikan materi kuliah harian oleh Syeikh Abdul Aziz ibn Bâz (pimpinan tertinggi Sekte Wahhaâbiyah di masanya), dan dikabarkan bahwa ia meminta agar beberapa bagian dari surat atau fatwa dalam buku itu yang memuat vonis terang pengafiran kaum Muslimin agar tidak dicetak. Namun demikian ternyata yang luput dari sensor pun masih cukup sebagai bukti sikap dan pandangan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dalam pengafiran.
Apabila kita kecualikan bagian kecil dari kitab tersebut, seperti surat Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb kepada penduduk kota Qashîm (ad Durar as Saniyyah,1/34) maka kita akan dapatkan bahwa kitab Ad- Durar as-Saniyyah seperti juga buku-buku lain Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb hampir kesemuanya memuat sikap berlebihan dalam pengafiran kaum Muslimin, yang sulit rasanya dicarikan pembelaan kecuali dengan bersikap tidak rasional dan subyektif, dan itu sudah terjadi dari para Ekstrimis Wahhâbiyah.
Di bawah ini pembaca akan saya ajak memperhatikan puluhan contoh penegasan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dalam kitab tersebut.
Contoh Pertama:
Ulama dan Para Qadhi Kota Najd Tidak Mengenal Islam!
Inilah yang jelas akan kita temukan dari penegasan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, bahkan ia mengatakan bahwa mereka tidak mengerti makna kalimat Tauhid; Lâ ilâha illallah/tiada tuhan selain Allah, dan mereka tidak mampu membedakan antara agama Muhammad ibn Abdillah dan agamanya ‘Amr ibn Luhay yang mencetuskan agama kemusyrikan untuk masyarakan Arab!
Ini bukan tuduhan palsu yang dibuat-buat untuk mendiskreditkan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb, akan tetapi adalah pernyataan tegas Syeikh sendiri, seperti dalam ad-Durar as Saniyyah,1/51:

لَقَدْ طَلَبْتُ العِلْمَ و اعْتَقَدَ مَنْ عَرَفَنِيْ أَنَّ لِيْ مَعْرِفَةً، و أنا في ذلِكَ الوقتِ لا أَعْرِفُ مَعنَى لآ إلهَ إلاَّ الله، و لا أعرِفُ ديْنَ الإسْلامِ! قبْلَ هذا الْخيرِ الذي مَنَّ اللهُ بِهِ! و كذلِكَ مشايِخِي، ما مِنْهُمْ رَجُلٌ عرَفَ ذلِكَ!، فَمَنْ زَعَمَ مِنْ عُلَماءِ العارِض أنَّهُ عرف معنى لآ إلهَ إلاَّ الله أوْ عرفَ معنى الإسلامِ قبلَ هذا الوقتِ أو زعمَ مِنْ مشايخي أنَّ أحَدًا عرفَ ذلكَ فقد كذب و افْتَرَى! و لبَسَ على الناسِ أو مَدَحَ بِما ليس فيهِ!
  “Aku telah menuntut ilmu dan orang yang mengenalku meyakini aku memiliki ma’rifat (ilmu), padahal aku waktu itu tidak mengerti makna Lâ ilâha illallah/tiada tuhan selain Allah dan aku tidak mengerti Islam sebelum Allah menganugerahkan kepadaku kebaikan ini! Demikian pula dengan guru-guruku, tiada seorang-pun dari mereka yang mengerti itu semua! Barang siapa dari ulama kota ‘Aridh mengaku mengerti makna Lâ ilâha illallah/tiada tuhan selain Allah, atau mengerti makna Islam sebelum waktu ini atau seorang dari guru-guruku ada yang mengaku mengertinya maka ia benar-benar telah berbohong dan mengada-ngada, serta menipu orang lain atau memuji diri sendiri dengan sesuatu yang tidak ia sandangnya!”
Setelah penegasan dan vonis brutal ini, ia melanjutkan bahwa ulama yang ia alamatkan pembicaraannya kepada mereka itu dan para masyaîkh/guru-guru mereka dan guru-guru mereka tidak ada yang mengerti akan agama Islam, dan mereka meyakini bahwa kemusyrikan adalah agama yang benar!:

وَلَمْ يُمَيِّزُوا بينَ دينِ محمدٍ (ص) و دينِ عمرو بن لُحَيْ الذي وضَعَهُ للعَرَبِ، بلْ دينُ عمروٍ عِندَهُمْ دينٌ صحيحٌ!

 “Mereka tidak bisa membedakan antara agama Muhammad saw. dan agama ‘Amr ibn Luhay yang ia gagas untuk masyarakat Arab, bahkan agama ‘Amr menurut mereka (para ulama itu) adalah agama yang benar!” (Ad Durar as Saniyyah, 1/57)
Abu Salafy berkata:
Coba Anda perhatian pernyataan di atas! Adakah pengafiran yang lebih jalas dan tegas lebih darinya? Ini jelas-jelas mengafirkan para ulama pilihan dan panutan umat dan para qâdhi kota Najd, guru-guru mereka, lalu apa bayangan kita tentang nasib para awam?!
Inilah pengafiran yang harus diakui telah terlontar dari pernyataan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb yang tidak bisa dibenarkan.
Sebab seluruh kitab sejarah kota Nadj telah menyebutkan sederetan nama ulama, para qadhi dan penuntut ilmu dari kaum Muslimin sejak zaman Ibnu ‘Adhîb pada adab ke sembilan hingga masa hidup Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb pada abad kedua belas.
Para penulis, tidak terkecuali para ahli sejarah dari kalangan Wahhâbiyah telah menyebutkan banyak data detail para ulama kota-kota seperti Usyaiqir, Syaqrâ, Buraidah, Unaizah, Huraimilâ’, al “Ainiyah, Riyâdh, al Kharj, Al Aflâj dan lain sebagianya sebelum masa Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb dan mereka bukanlah orang-orang kafir dan bukan pula penyembah berhala dan arca, seperti yang didakwakan oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb… Mungkin saja ada di antara mereka yang teledor dalam berda’wah, atau membiarkan praktik-praktik tertentu yang dianggap Wahhâbiyah sebagai bid’ah… itu bisa saja ada, akan tetapi menuduh mereka sebagai penyembah berhala atau lebih mengutamakan agama ‘Amr ibn Lihay yaitu kemusyrikan atas agama Tauhid yang dibawa oleh Sayyidul Anbiyâ’ wal Musralîn Muhammad saw…. tidak diragukan lagi adalah omongan batil yang tidak akan pernah diterima oleh siapapun yang menghargai akal sehatnya, dan saya yakin tidak ada orang waras yang akan mengatakannya. Kami berlindung kepada Allah dari mengafirkan kaum Muslimin…
Ini jelas adalah pengafiran sharîh, terang-tarangan yang telah didoktrinkan oleh Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb.
Catatan:
Untuk mengenal lebih jauh nama dan data para ulama kota Najd telah banyak kitab yang ditulis para sejarawan Arab, seperti:
A) As Suhub al Wâbilah karya Syeikh Ibnu Humaid dengan tahqîq Doktor Abdur Rahman al Utsaimin.
B) ‘Ulama Najd Khilâl Tsamâniyata Qurûn (ulama Najd Selama Delapan Abad) karya Abdullah al Bassâm -seorang ulama Wahhâbi dan salah seorang anggota Haiah Kibâr al Ulama (Komite Pembesar Ulama) bentukan para ulama Wahhâbiyah di Arab Saudi. Dalam kitab tersebut ia tidak menuduh seorang dari mereka menyandang bid’ah apalagi sebagai penyembah berhala dan mengutamakan agama ‘Amr atas agama Islam!
C) Ulama Nadj karya Qadhi Shaleh.
D) Ulama al Hanâbilah karya Bakr Abu Zaid.
Tidak seorangpun dari mereka atau selain mereka yang mengatakan bahwa para ulama sebelum zaman Syeikh Ibnu Abdil Wahab atau sezaman dengannya itu adalah menyembah berhala atau beragama dengan agama selain Islam! Kami berlindung kepada Allah dari keyakinan palsu seperti itu.
Lalu apa tujuan Syeikh Ibnu Abdil Wahhâb melontarkan tuduhan konyol seperti itu?! Bukankah itu pengafiran?! Yang kemudian ia jadikan pijakan hukum untuk menghalalkan darah-darah terhormat dan harta-harta mereka!! Dan itulah yang terjadi, setelah mereka dikafirkan, mereka diperangi, dibantai dan dibagi-bagi harta mereka sebagaia pampasan perang!!!
Innâ Lillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.

Sejarah Wahhabiyah (2)

Sejarah Wahhabiyah (2)
Dasar Pemikiran Wahabisme
Sekte Wahhabiyah memiliki dasar doqma ajaran yang dinyatakan dan dasar yang tersembunyi. Dasar yang dinyatakan adalah memurnikan tauhid hanya untuk Allah SWT., memerangi syirik dan berhala-berhala/sesembahan selainAllah. Akan tetapi realita sepak terjang sekte ini tidak mencerminkan sedikitpun dasar yang mereka nyatakan, seperti akan Anda saksikan nanti.

Adapun dasar yang tersembunyi ialah merobek-robek kasatuan Umat Islam, membangkitkan fitnah dan mengobarkan peperangan di antara sesame mereka demi kepentingan para penjajah Barat. Ini adalah poros yang seluruh upaya dan usaha kaum Wahhabi bergerak untuknya sejak awal pembentukannya hingga hari ini. Inilah dasar sesungguhnya sekte ini yang untuknya dasar pertama yang dinyatakan dieksploitasi demi merayu kaum awam yang lugu dan kosong pamahaman agama mereka.
Tidak diragukan lagi bahwa slogan memurnikan Tauhid hanya untuk Allah SWT. dan memerangi kemusyrikan adalah slogan yang sangat menawan dan memikat, di bawah slogan itu mereka yang telah terjaring aliran akan bersemangat, sementara itu mereka tidak memahami bahwa slogan itu hanya sekedar kedok demi merealisasikan tujuan awal yang disembunyikan itu.
Para peneliti sejerah aliran Wahhabiyah telah membuktikan bahwa ajakan ini telah dibentuk atas perintah langsung Kementrian urusan Penjajahan Kerajaan Inggris. Sebagai contoh baca buku Pilar-pilar Penjajahan tulisan Khairi Hammâd, Tarikh Najd tulisan Lison John Philippi yang menyamar dengan nama Abdullah Philippi serta Wahhabiyah Naqdun wa Tahlîl tulisan Hamayun Hamta

Sejarah Wahhabiyah (3)

Sejarah Wahhabiyah (3)
Pilar Pemkiran Aliran Wahhabyiah
Kaum Wahhabi membagi akidah menjadi dua bagian:
Pertama, yang datang dalam Alqur’an dan atau Sunnah. Mereka mengklaim bahwa bagian ini mereka ambil dari dasar Alqur’an dan Sunnah tanpa berujuk kepada ijtihad para mujtahidin dalam memahami maknanya, baik dari kalangan Sahabat, Tabi’in atau para imam mujtahidin lainnya.
Kedua, apa-apa yang tidak ada nash yang datang tentangnya. Di sini mereka mengklaim mengambilnya dari pemahaman Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah.

Akan tetapi dalam kedua perkara ini mereka mengalami kegagalan, mereka terjatuh dalam kontradiksi dan akhirnya menerjang hal-hal yang terlarang. Sebagai contoh:
1) Mereka sangat Letaralis.
Mereka beku dan terpaku atas makna-makna yang mereka fahami dari zahir sebagian nash, karenanya mereka menyalahi dasar-dasar, ushûl dan ijma’. Dari sini Syeikh Muhammad Abduh menyifati mereka dengan, “Sangat sempit kesabaran dan kreatifitasnya, sesak dadanya dibanding kaum muqallid, mereka berpandangan wajib hukumnya mengambil makna lahiriyah yang difahami dari teks yang datang dan mengikat diri dengannya tanpa memperhatikan apa yang ditetapkan oleh dasar-dasar yang atasnya agama ini ditegakkan.”
2) Mereka menyalahi Imam Ahmad.
Pada kenyataannya, mereka telah nyata-nyata menyalahi Imam Ahmad dalam hal pengkafiran sesiapa yang menyalahi mereka, sementara itu mereka tidak menemukan pada fatwa-fatwa Imam Ahmad yang dapat dijadikan dasar untuk keyakinan mereka tersebut. Bahkan sebaliknya, prilaku hidup dan fatwa-fatwa Imam Ahmad bertolak belakang dengan mereka. Beliau tidak mengafirkan ahli Kiblat (kaum Muslim) karena sebab dosa, baik dosa besar atau kecil kecuali sengaja meninggalkan shalat. Selain itu mereka juga tidak menemukan pada Ibnu Taimiyah sesuatu yang dapat menjadi bukti kebenaran akidah mereka (tentang pengafiran), bahkan yang datang dari Ibnu Taimiyah adalah bertolak belakang dengannya.
Ibnu Taimiyah berkata:
إنَّ مَنْ وَالىَ مُوافِقِيْهِ وَعادَى مُخَالفيه، وفرق جماعه المسلمين، وكفر وفسق مخالفيه فى مسائل الاراء والاجتهادات، واستحل قتالهم، فهو من اهل التفرق والاختلاف.
“Sesiapa yang mencintai teman-teman satu pendapat, memusuhi yang menyalahinya, memecah belah jama’ah kaum Muslim, mengafirkan dan menuduh fasik mereka yang menyelisihinya dalam masalah-masalah pandangan dan rana ijithad serta menghalalkan memerangi mereka maka ia tergolong ahli tafarruq dan ikhitlâf (pemecah belah umat dan pengobar perselisihan).”
Dengan demikian kaum Wahhabi –sesuai fatwa Ibnu Taimiyah- adalah kaum pemecah belah umat dan pengobar perselisihan!
3) Akidah Wahhâbiyah dalam masalah hukum menziarai makam-makam (kuburan).
Akidah Wahhâbiyah dalam masalah hukum menziarai makam-makam (kuburan). meniscayakan harus dikafirkan dan dimusyrikkannya Imam Ahmad ibn Hanbal dan sesiapa yang menyetujui pendapatnya! Dan darah-darah mereka adalah halal untuk dicucurkan dan harta-harta mereka adalah halal untuk dirampas!
Ibnu Taimiyah telah menukil bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal telah menulis satu juz tentang ziarah makam Imam Husain as. Di Karbala’, apa yang harus dilakukan oleh peziarah. Ibnu Taimiyah berkata:
ان الناس فى زمن الامام احمد كانوا ينتابونه، اى يقصدون زيارته.
“Sesungguhnya manusia di zaman Imam Ahmad senantiasa mendatangi makam Husain.”
Sementara dalam akidah kaum Wahhâbiyah mengadakan perjalanan ke makam-makam dengan tujuan menziarainya adalah syirik yang karenanya pelakunya berhak dihalalkan darah dan hartanya!
Maka dengan dasar akidah tersebut, Imam Ahmad dan kaum Muslimin yang hidup sezaman atau sebelum dan sesudahnya yang berpendapat bahwa praktik tersebut adalah mustahab adalah halal darah dan harta mereka!
Bahkan dapat disimpulkan dari keyakinan mereka bahwa seluruh umat Islam itu kafir dan musyrik!! Dan tidak terkecuali para sahabat Nabi saw. juga.
Lalu atas dasar apa kaum Wahhâbiyah itu mengaku sebagai pengikut dan pewaris mazhab Imam Ahmad ibn Hanbal?!
4) Hal yang sama juga berlaku pada keyakinan Wahhâbiyah tentang memohon syafa’at dari Nabi saw.
Dalam pandangan Wahhâbiyah, memohon syafa’at dari Nabi saw. Setelah wafat beliau adalah syirik. Dan sesiapa yang mengatakan; “Wahai Rasulullah berilah aku syafa’atmu!” maka ia telah syirik akbar, terbesar, karena –dalam anggapan Wahhâbiyah- orang tersebut telah menjadikan Nabi saw. Sebagai arca yang disembah selain Allah. Karenanya ia kafir dam musyrik, darah dan hartanya halal!
Padahal telah tetap dalam hadis shahih bahwa banyak dari sahabat dan tabi’în yang melakukannya. Ibnu Taimiyah pun telah menshahihkannya dari banyak jalur periwayatan. Ia meriwayatkannya dari al Baihaqi, ath Thabarâni, Ibnu Abi ad Dunya, Ahmad ibn Hanbal dan Ibnu as Sunni. Kendati kemudian ia tetap bersikeras meyakini pendapatnya dan menyelisihi hadis shahih. Namun demikian Ibnu Taimiyah tidak menganggapnya sebagai syirik, seperti yang diyakini kaum Wahhâbiyah!! Lebih lanjut baca az Ziyârah; Ibnu Taimyah:7/101-106)
Maka atas dasar akidah kaum Wahhâbiyah itu, para sahabat dan tabi’în adalah telah kafir dan menyekutukan Allah dan tentunya wajib dibunuh!!
Dan tidak hanya mereka yang dihukumi kafir oleh kaum Wahhâbiyah, akan tetapi, orang-orang lain pun yang telah sampai kepada mereka praktik para sahabat dan tabi’în tersebut dalam memohon syafa’at dari Nabi saw. Kemudian tidak mengingkarinya dan tidak mengafirkan mereka, maka ia juga kafir!!! Darah dan hartanya halal!
Dengan demikian, siapa yang akan selamat dari vonis kafir oleh kaum Wahhâbiyah!! Lalu siapakah sebenarnya Salaf panutan mereka itu, jika para sahabat dan tabi’în (yang merupakan generasi keemasan) telah mereka kafirkan?!

Sejarah wahhabiyah (4)

Sejarah wahhabiyah (4)
Akidah Wahhâbiyah Tentang Sahabat Nabi saw.
Seperti telah lewat disebutkan, bahwa keyakinan Wahhâbiyah meniscayakan kafirnya sebagian besar sahabat yang hidup sepeninggal Nabi saw. Dimana mereka membolehkan memohon syafa’at dari Nabi saw. Atau membolehkan safar, mengadakan perjalanan menuju makam suci Nabi saw. Atau menyaksikan sahabat lain atau orang lain melakukannya tetapi tidak menegurnya atau menvonisnya kafir dan syirik dan tidak pula menghalalkan darah dan hartanya!

Ini adalah konsekuensi logis akidah mereka itu! Dan demikianlah mereka telah menvonis. Akan tetapi dalam ajakan kapada alirannya, mereka berpura-pura mengagungkan para sahabat Nabi saw. demi merayu kaum awam yang lugu! Sebagaimana mereka sepertinya juga takut dari berterus terang!
Kaum Wahhaâbiyah juga mencerca para sahabat yang hidup sezaman dengan Nabi saw. Muhammad ibn Abdil Wahhâb –pendiri sekte ini- berkata tentang sahabat Nabi saw.
ان جماعه من الصحابه كانوا يجاهدون مع الرسول ويصلون معه ويزكون ويصومون ويحجون، ومع ذلك فقد كانوا كفارا بعيدين عن الاسلام
“Sekelompok sahabat ada yang berjihad bersama Rasulullah, shalat bersamanya, membayar zakat, berpuasa dan haji, namun demikian mereka itu adalah kaum kafir dan jauh dari Islam!”
Dan sebagai bukti kebencian mereka kepada sahabat Nabi saw., kaum Wahhâbiyah memuji Mu’waiyah setinggi langit! Demikian juga dengan Yazid putranya. Sementara sejarah tidak menyaksikan seorang yang lebih memusuhi sabahat setia Nabi saw. Lebih dari Mu’awiyah. Dan tidak ada seorang yang sangat membenci dan menghina para sahabat Nabi saw. lebih dari Yazid.
Dalam tiga tahun masa kekuasannya, Yazid telah melakukan tiga kejahatan dan kekafiran besar.
1) Membantai keluarga Nabi saw.; Husain ra. dan keluarga serta pengkut setianya di padang Karbala.
2) Membantai penduduk kota suci Madinah dan membebaskan pasukannya untuk berbuat apa saja selama tiga hari. Sehingga ratusan penduduk sipil dibantai, tidak terkecuali anak-anak kecil dan kaum manula. Tidak cukup itu mereka memperkosa putri-putri sahabat mulia, sehingga tidak kurang dari 1000 gadis mereka perkosa!
3) Membombardir Ka’bah dengan alasan menekan basis pertahanan Abdullah ibn Zubair.
Selain itu sejarah mencacat bahwa Yazid adalah pemabok berat … meninggalkan shahat… dan atas dasar fatwa kaum Wahhâbiyah, sesiapa yang meninggalkan shalat maka ia dihukumi kafir….
Imam Ahmad ibn Hanbal pun telah melaknat Yazid…
Jadi jika benar kaum Wahhâbiyah mengaku sebagai pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal maka mereka harus mengafirkan Yazid dan melaknatinya selalu!! Tetapi anehnya, kaum Wahhâbiyah itu malah tak henti-hentinya memintakan rahmat untuk Yazid dan memujinya setinggi langit…. Sampai-sampai kementrian pendidikan, wazârah al Ma’ârif Kerajaan Saudi Arabia menerbitkan buku dengan judul Haqâiq ‘An Amîrul Mu’minîn Yazid

Kitab Kasyfu asy Sybubuhât Doktrin Takfîr Wahhâbi Paling Ganas

Ibnu Abdil Wahhâb Menggelari Kaum Muslimin Dengan Musyrikûn!
Dalam lanjutan pembuktian yang hendak ia tegakkan dalam menjustifikasi pengafirannya atas kaum Muslimin. Ia menyebutkan sebuah kasus ketika Usamah ibn Zaid membunuh seorang yang telah menyatakan: Lâ Ilâha Illallah/Tiada Tuhan selain Allah…. .
Ibnu Abdil Wahhâb berkata:
وَللْمُشْرِكِينَ شُبْهَةٌ أُخْرَى : يَقُولُوْنَ : إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَنْكَرَ عَلَى أَسَامَةَ رضي الله عنه قَتْلَ مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَقَالَ :أقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَكَذَلِكَ قَوْلُه : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَكَذَلِكَ أَحَادِيثُ أُخْرَى فِي الْكَفِّ عَمَّنْ قَالَهَا . وَمرُادُ هَؤلاَءِ الْجَهَلَةِ أَنَّ مَنْ قَالَهَا لاَ يَكْفُرُ ، وَلاَ يُقْتَلُ  وَلَوْ فَعَلَ مَا فَعَلَ  .
Orang-orang Musyrikun juga memiliki sanggahan lain  di mana mereka berkata: bahwa Nabi Saw mengecam Usamah bin Zaid atas pembunuhan yang ia lakukan terhadaap seorang yang telah mengucapkan Lâ Ilâha Illallah. Demikian juga dengan sabda Nabi: ”Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan kalimat Lâ ilâha ilallah, dan hadis-hadis yang lain yang melarang keras untuk membunuh orang yang mengucapkan kalimat syahadah itu. Maksud yang dinginkan oleh orang-orang bodoh itu dari hal ini adalah barang siapa yang mengatakan hal ini maka dia tidak boleh dikafirkan dan dibunuh walaupun dia melakukan apapun saja.”
____________
Catatan 34:
Di sini Ibnu Abdil Wahhâb kembali menyebut kaum Muslimin dengan sebutan Musyrikûn! Dan ini adalah bukti kuat doktrin berbahaya itu tak henti-hentinya ia tabur dalam lembaran-lembaran buku kecilnya itu!
Kedua, ia menyebut kaum Muslimin (ulama dan kaum awamnya) selain dia dan kelompoknya sebagai orang-orang jahalah/kaum jahil/orang-orang bodoh! Hanya dia seorang yang memahami maksud hadis sabda Nabi saw. tersebut!
Ketiga, di sini Ibnu Abdil Wahhâb berbohong atas kaum Muslimin (yang telah ia sebut sebagai kaum jahalah)… Di mana dan dalam kitab apa para ulama Muslimin dari berbagai mazhab mengatakan bahwa siapapun yang telah mengucapkan kalimat syahadatain tidak dapat divonis kafir dan boleh dibunuh betapa pun ia melakukan apapun saja dan atau menampakkan keyakinan apapun bentuknya dan atau menginkari sebuah sendi dan prinsip dalam agama yang muttafaqun ‘alaih (yang disepakati umat Islam)?!
Karenanya tidak berguna sedikitpun jawaban yang ia kemukakan ketika ia berkata:
 وَهَؤُلاءِ الْجَهَلَةُ مُقِرُّونَ أَنَّ مَنْ أَنْكَرَ الْبَعْثَ كَفَرَ وَقُتِلَوَلَوْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مَنْ أَنْكَرَ شَيْئًا مِنْ أَرْكَانِ الإِسْلاَمِ كَفَرَ وَقُتِلَوَلَوْ قَالَهَا – . فَكَيْفَ لاَ تَنْفَعُهُ إِذَا جَحَدَ شَيْئًا مِن الْفُرُوعِ وَتَنْفَعُهُ إِذَا جَحَدَ التَوْحِيدَالَّذِي هُوَ أسَاسُ دِينِ الرُّسُلِ ، وَرَأْسُهُ . وَلكِنَّ أَعْدَاءَ اللَّهِ مَا فَهِمُوا مَعْنَى الأَحَادِيثِ
“Orang-orang bodoh, jahalah ini mengakui bahwa barang siapa mengingkari hari kebangkitan adalah kafir dan harus dibunuh walaupun mengucapkan Lâ ilâha ilallah, barangsiapa mengingkari salah satu dari rukun Islam maka dia kafir. Bagaimana mungkin pengingkaran terhadap salah satu furu’ membuat tak bermanfaat kalimat itu, namun jika ada yang mengingkari tauhid sebagai usul, fondasi utama dan pokok agama-agama para nabi tidak demikian?!                                    
Akan tetapi sebenarnya musuh-musuh Allah itu tidak memahami arti dari hadis-hadis..“
Abu Salafy berkata:
Siapakah yang meragukan itu semua… barang siapa mengingkari al ba’ts (kebangkitan di hari kiamat) yang merupakan sendi inti ketiga keimanan setelah mentauhidkan Allah dan mengimani kerasulan Nabi Muhammad saw. adalah dihukumi kafir?! Siapa yang mengingkari hal itu? Santri abangan saja yang baru nyantri beberap bulan kepada pak Kyia Ahlusunnah pasti mengerti hukum itu!
Akan tetapi masalahnya ialah bahwa Ibnu Abdil Wahhâb membangun kesimpulan sesatnya yang mengatakan bahwa bertawassul, beristighâtsah dan bertabarruk dengan para nabi dan para wali kekasih Allah adalah penyembahan kepada selain Allah SWT… dan penyembahan selain Allah adalah menyalahi inti Tauhid dan dia adalah kemusyrikan dan pelakunya adalah Musryik tulen yang harus divonis kafir dan halal darah dan hartanya!!
Namun semua pondasi ini, yang di atasnya ia membangun doktrin pengafiran kaum Muslimin yang bertawassul, beristighâtsah dan bertabarruk adalah tidak berdasar! Semua praktik itu dan keyakinan kaum Muslimin terhadap para nabi dan para wali  sama sekali tidak menyahali kemurnian Tauhid!
Maka dari itu, karena pondasi anggapannya itu tidak berdasar, maka kesimpulan bahwa ia boleh mengafirkan kaum Musliminn yang bertawassul, beristighâtsah dan bertabarruk juga tidak berdasar!
Jadi siapakah yang lebih layak menyandang gelar: “Orang-orang bodoh, jahalah itu! Gelar itu pasti akan sangat layak ia sandang ketimbang para ulama Islam yang telah menghabiskan umur mereka dalam meneliti dan menyelami makna sabda-basda Nabi saw.! dan kemudian menyimpulkan haramnya memvonis kafir seorang Muslim kecuali dengan bukti nyata yang tidak dapat dta’wil dengan selain kekafiran dan kemusyrikan! Itu pun harus dilakuakan dengan ekstra hati-hati!
Demikian juga dengan tuduhan kejinya atas kaum Muslimin, khususnya kalangan ulama yang ia sebut dengan:
وَلكِنَّ أَعْدَاءَ اللَّهِ مَا فَهِمُوا مَعْنَى الأَحَادِيثِ
“Akan tetapi sebenarnya musuh-musuh Allah itu tidak memahami arti dari hadis-hadis…. .“
Sebuah tuduhan keji yang tidak dapat dibiarkan begitu saja! Siapakah sebenarnya musuh-musuh Allah itu? Apakah kaum Muslimin -yang dengan dorongan kecintaan mereka serta keyakinan berdasar mereka- bertawassul, bertabarruk dan beritighatsah serta memohon syafa’at Rasulallah? Kaum Muslimin yang dengan penuh kerinduan menempuh beribu-ribu kilo meter dan mengarungi lautan demi lautan dengan menantang beragam bahaya yang mungkin menghadap hanya untuk menziahari, memuaskan kerinduan mereka dengan mencium ruji-ruji pusara suci Muhammad Rasulullah saw.? Siapakah musuh-musuh Allah yang ia maksud itu? Apakah mereka yang ia maksud adalah para imam besar Ahlusunnah; Imam Malik, Imam Syafi’i, imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan para tokoh kaum Shufi seperti Imam Ghazzali,  Syeikh Abdul Qadir al Jilani, Sayyid Ahmad al Badawi, Syeikh Abdul Wahhâb asy Sya’râni, asy Syadzili?
Mereka kah musuh-musuh Allah? Atau kaum yang menvonis Musyrik para pecinta Rasulullah saw. hanya kerena mereka bertawassul, bertabarruk dan beritighatsah? Kaum yang tak henti-hentinya bernafsu menghancurkan pusara para wali Allah, para sahabat Nabi dan keluarganya? Dan andai bukan karena takut murka dan bangkitnya kaum Muslim pastilah mereka sudah menghancurkan qubah hijau yang menaungi pusara suci baginda Rasulallah saw.!! pasti!
Siapakah sebenarnya musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, kalau bukan mereka yang tak henti-hentinya mengganggu, memperlakukan dengan kasar tamu-tamu Rasulallah saw. yang datang menziarai makam suci beliau dan mencari keberkahan di sisinya dan bahkan tidak jarang mereka mencambuk dan menghardik dengan kata, hai musyrik jangan mengahadap kuburan Muhammad!?! Menghadaplah ke arah kiblat?!
Siapakah sebenarnya musuh-musuhh kaum Muslimin kalau bukan Zionis Internasional dan kaum kafir serta kaum yang bersekutu dengan mereka demi mensukseskan Proyek Raya setan besar, dengan mencabik-cabik kesatuan dan persatuan kaum Muslimin dengan doktrin pengafiran dan vonis Musyrik!

Kitab Kasyfu asy Sybubuhât Doktrin Takfîr Wahhâbi Paling Ganas

Alasan Lain Untuk Melegalkan Pengafiran Kaum Muslimin
Demikian juga dengan jawaban yang ia ajukan dengan menyamakan kasus pengafirannya atas kam Muslimin dengan kasus-kasus:
A)    Dibenarkannya memerangi kaum Yahudi padahal mereka meyakini: Lâ Ilâha Illallah.
B)    Dibenarkannya memerangi suku bani Hainfah padahal mereka meyakini: Lâ Ilâha Illallah Muhammad Rasululllah.
C)    Imam Ali membakar sekelompok kaum…
Ibnu Abdil Wahhâb berkata:
 فَيُقَالُ لِهَؤُلاءِ الْجَهَلَةِ الْمُشْرِكِينَ : مَعْلُومٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَاتَلَ الْيَهُودَ ، وَسَبَاهُمْ ، وَهُمْ يَقُولُونَ : (لاَ إِلَهَ إلاَّ اللَّهُ) ، وَأنَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَاتَلُوا بَنِي حَنِيفَةَ ، وَهُمْ يَشْهَدُونَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، وَيُصَلُّونَ ، وَيَدَّعُونَ الإِسْلاَمَ ، وَكَذَلِكَ الَّذِينَ حَرَّقَهُمْ عَلِيُّ بنُ أَبي طَالِبٍ رضي الله عنه بِالنَّارِ
“Maka jawaban untuk kaum Musyrik yang jahil itu adalah sudah jelas bahwa Rasulullah saw. membunuh yahudi dan tawanan mereka padahal mereka mengatakan Lâ Ilâha Illallah, dan sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw. telah memerangi bani Hanifah, walaupun mereka bersaksi bahwa Lâ Ilâha Illallah Muhammad Rasululllah, mengerjakan shalat, dan mengaku sebagai seorang muslim, dan begitu halnya dengan mereka yang dibakar oleh Ali ibn Abi Tlaib.”
__________
Catatan 35:
Sekali lagi, di sini Ibnu Abdil Wahhâb menampakkan sikap kecongkakan, arogansi dan kebengisannya dengan menyebut kaum Muslimin (selain Wahhâbi) dengan sebutan kaum Musyrikun yang jahil/bodoh!
Penyamaan status kaum Muslimin dengan mereka yang disebut di atas adalah tidak berdasar dan hanya ditegakkan di atas anggapan sesatnya bahwa bertawassul dll adalah penyembahan dan itu menyalahi kemurnian Tauhid dan karenanya pelakunya dihukumi sebagai Musryik yaang kafir!
Hal itu dikarenakan:
Adapun kaum Yahudi:
A)         Kaum Yahudi benar-benar telah mengingkari kenabian Nabi Isa as. dan kerasulan Nabi Muhammad saw.
B)            Kaum Yahudi benar-benar telah mengingkari seluruh syari’at yang dibawa Rasulallah Muhammad saw.
Adapun bani Hanifah:
Khalid ibn Walid memerangi mereka dengan alasan mereka telah menginkari kewajiban zakat. Dan kewajiban zakat itu termasuk Dharûriyyat ad Dîn (hal pasti disyari’atkannnya dalam Islam). Dan siapapun yang mengingkarinya setelah tegak di hadapannya bukti akan hal itu maka pasti ia berhak dihukumi kafir!
Adapun kaum yang dibakar Ali ra. -jika peristiwa itu benar-, mereka itu adalah kaum yang telah keluar dari Islam dengan menuhankan Ali… seperti telah lewat dibicarakan sebelumnya.
Jadi menyamakan mereka semua dengan kaum Muslimin yang bertawassul, beristighâtsah, bertabarruk adalah sebuah kazaliman yang keterlaluan! Sebab mereka tidak kafir, tidak menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, dan tidak pula mengingkari hal yang dharûriyah dari agama Islam! Dan tidak mengafrikan dan menghalalkan darah-darah mereka kecuali orang jahil yang tidak mengerti apa-apa tentang makna hadis-hadis Nabi saw.!