Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 Agustus 2011

Akidah Wahhâbi Salafi Mujassimah (3)

Tuham Kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah Berbagi Jatah Tempat Duduk Dengan Nabi Muhammad saw. di Atas Arsy-Nya
Tak henti-hentinya akidah kaum Wahhabi/Salafi Mujassimah membuat kita geli dan sekaligus prihatin terhadap kekerdilan akal dan pikiran mereka yang begitu mudah dipermainkan oleh dongeng-dongeng palsu… kalau dahulu kita menggeleng-gelengkan kepala kita lantaran heran menyaksikan kejahilan masyarakat Yahudi di zaman Nabi Musa as. yang dengan mudahnya, mereka dibodohi oleh Samiri agar mau mengimani patung anak sapi sebagai tuhan mereka…. Kini kita ternyata harus berhadapan dengan sekawanan manusia yang jauh lebih kerdil dan jahil dari bani Isra’il yang menjadikan patung anak sapi sebagai sesembahan mereka….
Kaum Mujassimah yang sekarang (diakui atau tidak) diwakili oleh kaum Wahhâbi/Salafi berkeyakinan bahwa Allah duduk di atas Arsy-Nya yang terkadang mereka katakan dipikul delapan ekor kambing hutan jantan di atas langit ke tujuh dan mengapung di atas air… dan dalam kesempatan lain mereka yakini Arsy yang di atasnya Allah duduk/bersemayam sambil bersandar (leye’-leye’) yang menyelonjorkan kedua kakinya itu dipikul oleh empat malaikat… Tidak cukup demikian, kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah berkeyakinan bahwa kelak di hari kiamat Allah menyisakan sedikit tempat di Arsy-Nya untuk mendudukkan Nabi mulia-Nya. Tidak puas meyakininya, kaum Mujassimah itu menvonis sesiapa yang menolak keyakinnan in sebagai telah keluar dari Islam… sebagai Jahmiyah, kelompok sesat dan ahli bid’ah dan zindiq yang kafir!!!
Tokoh-tokoh kebanggaan kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah yang nama mereka selalu menghiasi bibir-bibir dan/atau tulisan-tulisan para ustadz dan misionaris sekte ini, seperti nama Abu Bakr al Khallâl, Abu bakr ash Shâghâni, Abu Daud as Sijistâni, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dkk. Berebut angkat suara memekikkan akidah sumbang yang terang-terangan mendesain Allah sebagai Dzat yang berjism/berpostur yang butuh kepada tempat dan akan duduk bersandingan dengan Nabi kesayangan-Nya; Muhammad saw.
Mereka mengaitkan akidah “super ngawur” ini dengan sebuah ayat AlQur’an yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kesesatan akidah mereka itu. Yaitu ayat:

وَ مِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نافِلَةً لَكَ عَسى‏ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقاماً مَحْمُوداً

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isrâ’[17]; 79)
.
.
Komentar Para Tokoh Sekte Salafi Mujassimah
Seperti telah disinggung bahwa para tokoh sekte Mujassimah berebut menyuarakan akidah sumbang ini dengan berbagai penegasan dan tidak jarang juga dibumbuhi dengan ancaman bagi yang menolak dan mempermasalahkannya. Untuk menghemat waktu pambaca saya sajikan langsung komentar mereka.
  • Abu Bakar al Khallâl
Dalam masalah duduknya Allah seperti digambarkan di atas, Abu Bakr Al Khallâl menegaskan:

وإنّ هذا الحديث لا ينكره إلا مبتدع جهمي ، فنحن نسأل الله العافية من بدعته وضلالته …

“Dan hadis ini (yaitu hadis duduknya Allah bersanding dengan Nabi di Arsy-Nya) tidak mengingkarinya melainkan ahli bid’ah, berfaham Jahmiyah. Kami memohon kepada Allah keselamatan dari bid’ah dan kesesatannya…” [1]
Ia juga berkata meyakinkan:

وقد سمعت هذا الحديث من غير واحد من مشيختنا ما رأيت أحداً رد هذا.

“Aku telah mendengar hadis ini dari banyak masyâikh. Tiada satupun dari mereka yang menolaknya.” [2]
  • Ash Shâghâni
Al Khallâl menukil pernyataan Abu Bakr Muhammad ibn Ishaq ash Shâghâni yang berkomentar keras meyakinkan kita akan akidahnya dan mengecam keras siapa yang mengingkarinya. Ia berkata:
.

لا أعلم أحداً من أهل العلم ممن تقدم ولا في عصرنا هذا إلا وهو منكر لما أحدث الترمذي من رد حديث محمد بن فضيل عن ليث عن مجاهد في قـوله : ( عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) قال : يقعده على العرش، فهو عندنا جهمي يهجر ، ونحذر عنه ، فقد حدثنا به هارون  بن معروف قال : حدثنا محمد بن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد في قوله : (عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) قال : يقعده على العرش ، وقد روي عن عبد الله بن سلام قال : يقعده على كرسي الرب جل وعز ، فقيل للجريري : إذا كان على كرسي الرب فهو معه ؟ قال : ويحكم ، هذا أقر لعيني في الدنيا ، وقد أتى عليّ نيف وثمانون سنة ، ما علمت أنّ أحداً رد حديث مجاهد إلا جهمي ، وقد جاءت به الأئمة في الأمصار ، وتلقته العلماء بالقبول ، منذ نيف وخمسين ومائة سنة ، وبعد فإني لا أعرف هذا الترمذي ولا أعلم أني رأيته عند محدث ، فعليكم رحمكم الله بالتمسك بالسنة والإتباع

“Aku tidak mengatahui ada seorang pun di antara baik yang telah lalu maupun di zaman ini melainkan ia menginkari apa yang dimunculkan oleh si at Turmudzi yaitu penolakan atas hadis Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang firman Alllah: “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” ia berkata, “Allah mendudukkan Nabi di Arsy-Nya. Dan telah diriwayatkan dari Abdullah ibn Sallâm, ia berkata, “Allah mendudukkannya di atas Kursi Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi.” Lalu ada yang berkata kepada al Jariri, “Jika Nabi duduk di Kursi Tuhan berarti ia bersangding dengan Tuhan?” Ia berkata, “Celakalah engkau. Hal ini lebih mendinginkan mataku di dunia ini. Aku telah mencapai usia delapan puluh tahun lebih, aku tidak mengetahui ada seorang yang menolak hadis Mujahi ini melainkan seorang berfaham Jahmiyah. Para imam telah menbawa/menyebarkan hadis ini di berbagai penjuru negeri dan para ulama pun telah menyambut dengan penerimaan sejak seratus lima puluh tahun lebih. Dan setelah ini aku tidak mengenal siapa si at Turmudzi ini dan aku juga tidak mengetahui bahwa aku pernah melihatnnya di sisi ahli hadis. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnah dan mengikutinya. [3]
  • Abu Bakr ibn Yahya ibn Abi Thalib
Sekali lagi al Khallâl menukil pernyataan Abu Bakr ibn Yahya ibn Abi Thalib yang tidak kalah keras dan kakunya dari pernyataan sebelumnya. Ia berkata:
.

لا أعرف هذا الجهمي العجمي لا نعرفه عند محدث ولا عند أحد من إخواننا ، ولا علمت أنّ أحداً رد حديث مجاهد : يقعد محمداً (ص) على العرش ، رواه الخلق عن ابن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد ، واحتمله المحدثون الثقات ، وحدثوا به على رؤوس الأشهاد ، لا يدفعون ذلك ، يتلقونه بالقبول والسرور بذلك ، وأنا فيما أرى أني أعقل منذ سبعين سنة ، والله ما أعرف أحداً رده ، ولا يرده إلا كل جهمي مبتدع خبيث يدعوا إلى خلاف ما كان عليه أشياخنا وأئمتنا ، عجل الله له العقوبة ، وأخرجه من جوارنا ، فإنه بلية على من ابتلى به ، فالحمد لله الذي عدل عنا ما ابتلاه به ، والذي عندنا والحمد لله أنا نؤمن بحديث مجاهد ، ونقول به على ما جاء به ، ونسلم الحديث وغيره مما يخالف فيه الجهمية من الرؤية والصفات ، وقرب محمد (ص) منه ، وقد كان كتب إلي هذا العجمي الترمذي كتاباً بخطه ودفعته إلى أبي بكر المروذي ، وفيه أنّ من قال بحديث مجاهد فهو جهمي ثنوي ، وكذب الكذاب المخالف للإسلام ، فحذروا عنه …. ، فهذا ديني الذي أدين الله عز وجل به ، أسأل الله أنْ يميتنا ويحيينا عليه .

.
“Aku tidak mengetahui si Jahmi Ajami (non Arab). Kami tidak mengenalnya di kalangan ahli hadis atau seorang pun dari saudara-saudara kami. Dan aku tidak mengetahui bahwa ada seorang yang menolak hadis Mujahid: Allah mendudukkan Muhammad saw. di atas Arsy. Hdis itu telah diriwayatkan oleh banyak kalangan dari Ibnu Fudhail dari Laits dari Mujahid. Para ahli hadis yang terpercaya pun telah menerimanya dan mereka pun menyampaikan di hapana khalayak ramai dan merekapun tidak menolaaknya; mereka meneriman sepenuhnya dengan penuh gembira. Dan aku sepanjang pengetahuanku, aku telah menyadarinya sejak tujuh puluh tahun lalu. Deemi Allah aku tidak mengetahui ada seorang pun yang menolaknya melainkan seorang berfaham Jahmiyah, pembid’ah yang jahat yang mengajak kepada menyelisihi para masyâikh dan para imam kita. Semoga Allah mempercepat siksa atasnya dan mengusirnya dari negeri-negeri kita, sebab ia adalah bencana atas yang terpengaruh olehnya. Dan segala puji bagi Allah yang telah mengylamatkan kita dari bencana itu. Yang kami yakini –alhamdulillah- adalah bahwa kami meyakini hadis Mujahid dan menrimanya sesuai apa yang tertara dan kami menerima hadis ini dan lainnya yang menyelisihi kaum Jahmiyah dalam masalah pelihat Allah dengan meta telanjang dan  sifat-sifat lain serta kedekatan Muhammad saw. kepada Tuhannya. Si ajami yang bernama at Turmudzi ini telah menulias surat kepadaku lalu aku serahkan kepada Abu bakr al Marûdzi, dalam surat itu ia mengatakan bahwa yang meyakini apa yang ada dalam hadis Mujahid adalah kaum Jahmiyah Tsanawi (yang menakini ada dua tuhan). Dan berbohonglah ia si ppembohong atas nama Islam. Maka para ulama memperingatkan orang-orang darinya … ini adalah agama yang aku yakini dan aku memohon agar Allah menghidupkan dan mematikanku di atasnya.” [4]
  • Ali ibn Daud al Qanthari
Abu Bakr al Khlallâl juga menukil pernyataan serupa dari al Qanthari. Ia berkata:
.

أما بعد ، فعليكم بالتمسك بهدي أبي عبد الله أحمد بن محمد بن حنبل رضي الله عنه ، فإنه إمام المتقين….  وأنّ هذا الترمذي الذي طعن على مجاهد برده فضيلة النبي (ص) مبتدع ، ولا يرد حديث محمد بن فضيل عن ليث عن مجاهد : ( عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) [الإسراء : 79] قال : يقعده معه على العرش ، إلا جهمي ، يهجر ولا يكلم ، ويحذر عنه وعن كل من رد هذه الفضيلة ، وأنا أشهد على هذا الترمذي أنه جهمي خبيث …..

.
Amma ba’du, maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan petunjuk Abu Abdillah; Ahmad ibn Muhammad Hanbal ra. Beliau adalah imam kaum muttaqîn/yang bertaqwa…. Dan sesungguhnya si at Turmudzi ini yang mencacat Mujahid dengan menolak keutamaan Nabi saw. adalah seorang ahli bid’ah. Dan tidak menolak hadis Muhammad ibn Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang firman Alllah: “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” ia berkata, “Allah mendudukkan Nabi di Arsy-Nya… melainkan seorang berfaham Jahmiyah. Ia harus diboikot dan tidak diajak bicara dan orang-orang harus diperingatkan darinya dan dari siapapun yang menolak keutamaan ini. Dan aku bersaksi bahwa si at Turmudzi ini adalah seorang berfaham jahmiyah yang jahat …. .” [5]
  • Ibrahim al Harbi
Al Khallâl juga menukil sebuah pernyataan dari Ibrahim al Harbi yang secara keras dan tegas mempertahankan akidah ini. Ia berkata:
.

الذي نعرف ونقول به ونذهب إليه ما سبيل من طعن على مجاهد وخطأه ، إلا الأدب والحبس ، حدثنا هارون بن معروف ، عن ابن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد : ( عسى أنْ يبعثك ربك مقاماً محموداً ) قال : يقعده على العرش ، وإني لأرجو أنْ تكون منزلته عند الله تبارك وتعالى أكثر من هذا ، ومن رد على مجاهد ما قاله من قعود محمد (ص) على العرش وغيره فقد كذب ، ولا أعلم أني رأيت هذا الترمذي الذي ينكر حديث مجاهد قـط في حديث ولا غير حديث

.
“Yang kami ketahui dan kami yakini bahwa sikap yang harus diterapkan atas orang yang mencacat (hadis) Mujahid dan menyalahkannya adalah harus diberi pelajaran dan dipenjarakan. Harun ibn Ma’rûf telaah menyampaikan hadis kepada kami dari Ibnu FFudhail dari Liats dari Mujahid tentang firman Alllah: “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” ia berkata, “Allah mendudukkan Nabi di Arsy-Nya. dan aku berharap bahwa kedudukan Nabi di sisi Allah lebih dari itu. Dan barang siapa yang menolak apa yang dikatakan Mujahid yaitu didudukkannya Nabi di atas Arsy dan ucapan-ucapannya yang laon maka ia benar-benar telah berbohong. Aku sama sekali tidak pernah menyaksikan si at Turmudzi yang mengingkari hadis Mujahid ini baik dalam snad hadis maupun selainnya.” [6]
Selain nama-nama tokoh Mujassimah yang disebut di atas, Al Khallâl juga menyebutkan banyak nama lainnya, seperti Adu Daud as Sijistâni, Muhammad ibn Ismail as Sulami, Abil Abbas Harun ibn Abbas al Hâsyimi yang menvonis secara gana siapapun yan menolak pendapat Mujahid di atas. Ia berkata:
.

من رد حديث مجاهد فهو عندي جهمي ، ومن رد فضل النبي (ص) فهو عندي زنديق لا يُستتاب ويقتل ، لأنّ الله عز وجل قد فضله على الأنبياء عليهم السلام ، وقد روي عن الله عز وجل قال : لا أذكر إلا ذكرت معي ، ويروى في قوله : ( لعمرك) [ الحجر : 72] قال : بحياتك ، ويروى أنه قال : يا محمد لولاك ما خلقت آدم . فاحذروا من رد حديث مجاهد ، وقد بلغني عنه أخزاه الله أنه ينكر أنّ الله عز وجل ينزل ، فمن رد هذا وحديث مجاهد فلا يكلم ولا يصلى عليه .

.
“Barang siapa yang menolak hadis (ucapan) Mujahid maka ia menurut saya adalah seorang berfamah jahmiyah. Dan barang siapa yang menolak keutamaan Nabi saw.(bahwa beliau didudukkan bersanding Allah SWT) maka menurutku ia seorang zindiq (kafir). Tidak perlu diminta taubat (tetaapi langsung dibunuh). Sebab Allah –Azza wa Jalla- telah mengutamakan Nabi Muhammad di atas para nabi-Nya as. dan telah diriwayatkan dari Allah (dalam hadis Qudsi), Ia berfiaman: ‘Tidaklah Aku disebut melainkan engkau (hai Nabi) disebut juga.’  Dan telah diriwayatkan tentang ayat: ( لعمرك) maksudnya: ‘Demi kehidupanmu (hai Muhammad)’. Dan telah diriwayatkan bahwa Allah berfiaman: ‘Andai bukan karena engkau Aku tidak ciptakan Adam.’ Maka waspadalah dari menolak hadis (ucapan) Mujahid. Telah sampai kepadaku darinya –semoga Allah menghinakannnya- bahwa ia menolak bahwa Allah turun (dari langit/Arsy-Nya). Maka barang siapa yang menolak ini dan menolak hadis (ucapan) Mujahid ini ia harus tidak boleh diajak bicara dan (jika ia mati) tidak boleh dishalatkan (jenazahnya).[7]
  • Abu Ali Ismail ibn Ibrahim al Hasyimi
Al Khallâl menyebutkan pernyataan Abu Ali al Hasyimi yang barkata:
.

أنّ هذا المعروف بالترمذي عندنا مبتدع جهمي ، ومن رد حديث مجاهد فقد دفع فضل رسـول الله (ص) ، ومن رد فضيلة الرسول فهو عندنا كافر مرتد عن الإسلام …

“Sesungguhnya seorang yang dikenal dengan nama at Turmudzi ini menurut kami adalah seorang Ahli Bid’ah berfaman Jahmiyah. Barang siapa menolak ucapan Mujahid maka sesungguhnya ia telah menolak keutamaan Rasulullah saw.. dan barang siapa yang menolak keutamaan rasulullah maka menurut kami ia seorang kafir yang telah murtad dari agama Islam…. “ [8]
Setelah menyebutkan beberapa nama-nama tokoh Mujassimah lainnya seperti Adu Daud as Sijistâni, Muhammad ibn Ismail as Sulami dan Abu Bakr Muhammad ibn Hammâd al Muqri, al Khallâl mempertegas vonis apa yang harus dijatuhkan, bukan lagi atas orang yang menolak ucapan dan pendapat Mujahid, tetapi atas orang yang sekedar diam saja dan tidak memberikan komentar yang mencacat hadis (ucapan/pendapat) yang diyakini oleh Mujahid. Al Khallâl berkata:
.

قال أبو بكر بن حماد : من ذكرت عنده هذه الأحاديث فسكت عنها فهـو متهم ، فكيـف من ردها وطعن فيها أو تكـلم فيها .

.
“Abu Bakr ibn Hammâd bewrkata, “Barang siapa yang disebut di sisinya hadis-hadis ini lalu ia diam maka ia tertuduh. Lalu bagaimana dengan yang menolak dan mencacatnya atau berbicara tentangnya.”
Inilah beberapa kutipan yang kami nukil dari apa yang dicecer oleh tokoh besar sekte Salkafi Mujassimah yang begitu dibanggakan kaum Salafi Modern  dan mereka yang tertipu dengan kemasan palsu akidah yang diatas namakan Mazhab Para Salaf Shaleh (Mazhab PS2)
Dan darinya Anda dapat melihat kenaifan dan kekerdilan cara berfikir tokoh-tokoh kebanggan sekte ini… bagaimana mareka memperuncing kesimpulan untuk memberikan justifikasi bagi mereka untuk menvonsi sesat, ahli bid’ah, jahmiyah dan kafir murtad…. Semoga umat Islam diselamatkan dari keganasan kaum Ganas Brutal yang sok berpegang dengan Mazhab  PS 2!
Setelahnya, saya ajak Anda menyaksikan komentar Ibnu Qayyim dan Ibnu Tamiyah sebagai dua tokoh yang hamper-hampir mereka sejajarkan dengan para nabi yang tak pernah melakukan kesalahan dalam akidah dan pendapat-pendapatnya!
  • Komentar Ibnu Qayyim
Dalam kitab Badâi’ al Fawâid-nya, ia berkata:
.

فائدة : إقعاده على العرش وذكر أقوال من قال بذلك

.
Faidah: tentang didudukkannya Nabi di atass Arsy dan penyebutan pendapat ulama tentangnya. (demikian disebutkan dalam cetakan Maktabah Nizâr Mushthafa al Bâz. Mekkah al Mukarramah,4/841. Thn. 1416 H/1996M)
Adapun dalam terbitan: Al maktabah al ‘Ashriyah, Beirut. Thn.1422 H/2001 M, 4/45 disebutkan demikian:
.

فائدة : ذكر من قالوا بقعود النبي (ص) على العرش .

.
Faidah: Penyebutan ulama yang mengatakab bahwa Nabi di udukkan di atas Arsy.
Ibnu Qayyim berkata:
.

صنف المـروزي كتـاباً في فضيلـة النبي (ص) وذكر فيه إقعاده على العرش ، قال القاضي : وهو قول أبي داود وأحمد بن أصرم ويحي بن أبي طالب وأبي بكر بن حماد وأبي جعفر الدمشقي وعياش الدوري ، وإسحاق بن راهويه وعبد الوهاب الوراق ، وإبراهيم الأسبهاني وإبراهيم الحربي وهارون بن معروف ومحمد بن إسماعيل السلمي ومحمد بن مصعب العابد وأبي بكر بن صدقة ومحمد بن بشر بن شريك وأبي قلابة وعلي بن سهل وأبي عبد الله بن عبد النور وأبي عبيد والحسن بن فضل وهارون بن العباس الهاشمي وإسماعيل بن إبراهيم الهاشمي ومحمد بن عمران الفارسي الزاهد ومحمد بن يونس البصري وعبد الله بن الإمام أحمد والمروزي وبشر الحافي .

.
“Al Marwazi telah menulis sebuah kitab tentang keutamaan Nabi saw.. di dalamnya ia menyebutkan bahwa Nabi didudukkan di atas Arys. Qadhi berkata, “Ini adalah pendapat Abu Daud, Ahmad ibn Ashram, Yahya ibn Abi Thalib, Abu Bakr ibn Hammad, Abu Ja’far ad Dimasyqi. Ayâsy ad Dûri, Ishaq ibn Rahawaih, Abdul Wahhâb al Warrâq, Ibrahim al Asbahâni, Ibrahim al Harbi, Harun ibn Ma’rûf, Muhammad ibn Ismail as Sulami…. Abdullah putra Imam Ahmadd, al Marwazi dan Bisyr al Hâfi.”
Setelahnya ia berkata:
.

وهو قول ابن جرير الطبري ، وإمام هؤلاء كلهم مجاهد إمام التفسير ، وهو قول أبي الحسن الدارقطني

“Ini adalah pendapat Ibn Jarir ath Thabari, dan pemimpin/imam mereka semua adalah Mujahid imamnya ahli tafsir. Dan ia adalah pendapat Abul hasan ad Dâruquthni.”
  • Komentar Ibnu Taimiyah
Ibnu Tamiyah berkoamtar mempertegas akidah tajsim ini dengan mengatakan:
.

فقد حدّث العلماء المرضيون وأولياؤه المقبولون أنّ محمداً رسول الله صلى الله عليه وسلم يجلسه ربه على العرش معه روى ذلك محمد بن فضيل ، عن ليث ، عن مجاهد في تفسير : ( عسى أنْ يَبْعَثَكَ رَبُكَ مَقَاماً مَحْمُوداً ) ، وذكر ذلك من وجوه أخرى مرفوعة وغير مرفوعة ، قال ابن جرير : وليس هذا مناقضاً لما استفاضت به الأحاديث من أنّ المقام المحمود هو الشفاعة باتفاق الأئمة من جميع من ينتحل الإسلام ويدعيه ، لا يقول أنّ إجلاسه على العرش منكراً ، وإنما أنكره بعض الجهمية ولا ذكره في تفسير الآية منكر .

.
“Para ulama yang telah diridhai (diterima keulamaannya) dan para wali-wali Allah yang diterima telah menyebutkan bahwa Muhammad Rasululah saw. telah diidudukkan Tuhannya di atas Arsy bersandingan bersama-Nya. Pernyataan itu telah disampiakan oleh Muhammad ibn Fudhail dari Laits dari Mujahid tentang tafsir ayat: : “mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” Pendapat/tafsiran itu telah disebutkan dari jalur-jalur lain yang bersambung kepada Nabi dan yang tidak bersambung kepada Nabi. Ibnu Jarir berkata, “Tidaklah hal ini bertentangan dengan apa yang telah beredar dengan banyak dalam hadis-hadis bahwa Maqam mahmûd yang dimaksud adalah maqam Syafa’at berdasarkan kesdepatan para imam dari seluruh umat Islam dan tidaklah didudukknnya Nabi di atas Arsy itu sesuatu yang mungkar. Hanya saja sebagian penganut faham Jahmiyah mengingkarinya dan juga mengingkarinya orang tidak menyebutkannya dalam tafsir ayat itu.” [9]
Ibnu Jauzi Mengecam dan Menghujat Kaum Salafi Mujasimah
Seperti diketahui bersama bahwa kitab Da’fu Syubah at Tasybîh ditulis Ibnu Jauzi untuk melacak kesesatan dan penyimpangan akidah kaum Mujassimah yang diwakili oleh tiga tokoh sentral sekte itu di masanya, maka pastilah akidah unggukan kaum Mujassimah ini akan mendapat sorotan tajam dari tokoh Ahli Tanzîh/kelompok yang menyucikan Allah dari akidah sesat tempelan kaum Mujasimah Musyabbiha yang mengaku pewaris tunggal dan sejati “Mazhab PS 2”.
Dalam komentarnya atas hadis dengan nomer 39, Ibnu Jauzi menyebutkan terlebih dahulu dalil andalan kaum Mujassimah/Musyabbihah yang tak pernah malu memalsu atau menimati kepalsuan atas nama para sahabat dan/atau tabi’în dan para pembesar ulama. Ibnu Jauzi menyebtukan riwayat yang disandarkan kepada Aisyah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. pernah ditanya tentang Maqâm Mahmûd, maka beliau bersabda: “Tuhanku menjanjikan kepadaku untuk mendudukkanku di atas Arsy.”
Ibnu Jauzi berkata, “Ini adalah hadis palsu, sama sekali tidak shahih dari Rasulullah saw.
Ibnu Hâmid si Mujassim itu berkata, “Kita harus/wajib mengimani apa yang datang tentang adanya bersentuhan dan kedekatan Tuhan kepada Nabi saw. dan didudukkannya beliau di atas Arsy. Ibnu Jauzi berkata, “Ia berkata, ‘Ibnu Umar berkata tantang ayat:
.

وَ إِنَّ لَهُ عِنْدَنا لَزُلْفى‏ وَ حُسْنَ مَآبٍ

“Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (QS. Shâd [38];40
.
Ia berkata, “Allah menyebut kedekatan darii-Nya sehingga dia menyentuh sebagian dari Dzat Allah.”[10]
Ibnu Jauzi berkata, “Ini adalah sebuah kepalsuan atas nama Ibnu Umar. Dan barang siapa yang menyebut pembagian Dzat Allah kepada bagian-bagian maka ia telah kafir berdasarkan kesepakatanumat Islam/ijmâ’.”
Qadhi Abu Ya’lâ si Mujassim berkata, “Allah kelak mendudukkan Nabi-Nya di atas Arsy dengan arti mendekatkan Nabi-Nya dari Dzat-Nya. Pengertian ini didukung oleh firman:
.

فَكانَ قابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنى‏

“Maka  jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).” (QS. An najm 53]; 9)
Ibnu Abbas berkata, “Jarak antaara Dia Tuhan dan Nabi adalah sedekat dua busur panah.”
Aku (Ibnu Jauzi) berkata, “yang dimaksud dengannya adalah malaikat Jibril bukan Allah SWT. Dan barang siapa membolehkan adanya sesuatu yang mendekat kepada Dzat Allah maka ia telah membilehkan terjadinya persentuhan/mulâshaqah. Dan apa yang yakini Qadhi Abu Ya’lâ adalah terang-tarangan kayakinan Tajsîm.” [11]
Beberapa Catatan Akhir
Sebelum saya mengakhiri pembahasan ini, saya bermaksud menuliskan beberapa catatan penting seputar masalah ini dan sikap kaum Salafi Mujassimah-Musyabbihah.
A)    Semangat 45 Kaum Salafi Mujassimah Dalam Menyebarkan Akidah Tajsîm Ini
Seperti kita perhatikan bagaimana al Khallâl misalnya dalam kitab as Sunnah-nya begitu berapi-api dalam menyajikan akidah tajsîm yang sangat bertentangan dengan kemurnian inti Tauhid. Sampai-sampai ia bersusah-susah dalam menyebutkan tidak kurang dari 85 komentar para tokoh Mujassimah dan yang sangat kuat kemungkinan sebagiannya masih layak disangsikan.
Namun yang menarik perhatian di sini ialah bahwa hampir seluruh komentar yang ia sebutkan itu bermuara pada pendapat seorang tabi’in bernama Mujahid dengan periwayatan yang lemah!
Lebih dari itu semua bahwa al Khallâl, -seperti juga kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimah lainnya- i tidak segan-segan menampakkan taring kebengisannya dengan menteror siapapun yang tidak meyakini apa yang ia sebutkan itu sebagai Jahmi, Zindiq dan akhirnya kafir![12]
Sebuah kegilaan sikap yang tak terbayangkan. Dimana keimanan diteror sebagai kekafiran dan kekafiran diyakini sebagai inti keimanan. Tapi apa hendak dikata? Kalau ttidak galak yaa bukan Salafi namanya!!
B) Ketidak Konsistenan Sikap kaum Salafi Mujassimah
Kaum Salafi dalam rangka menjaering kaum awam selalu memekikkan slogan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnnah Nabi saw. Dengan pemahaman Salaf Shaleh! Akan tetapi anehnya, di sini dalam kasus ini, kaum Salafi Mujassimah jusretu mmblakangi Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. serta pernyataan para Salaf generasi Sahabat dan Tabi’în. Sebab sabda Nabi saw. dalam menafsirkan ayat Maqâm Mahmud sudah sangat tegas bahwa yang dimaksudkan adalah maqam syafa’at di mana Allah memberikan kedudukan kepada Nabi saw. berupa pemberian syafa’at demi diringankannya umat manusia dari kedahsyatan mengerikan di padang mahsyar dan diberinya beliau maqam syafa’at untuk menyelamatkan para pendosa dari siksa api neraka. Maqam syafa’at itulah yang dimaksud dengan Maqâm Mahmûd. Pemaknaan ini juga telah dikuatkan oleh penafsiran para sahabat dan negerasi Salaf lainnya.
Tetapi anehnya, di sini kaum Salafi Mujassimah justeru tertarik  kepada pendapat seorang tabi’în dan bersandar kepada beberapa riwayat palsu yang mengatakan bahwa kelak di hari kiamat Allah berbagi tempat duduk di atas Arsy-Nya. Lebih dari itu bahwa periwayatan pendapat irtu dari Mujahid itu diriwayatkan dari jalur yang lemah. Dan selain itu telah diriwayatkan juga dari Mujahid pendapat yang menyamai pendapat para sahabat dan Salaf umat lainnya (yang sesuai dengan sabda Nabi saw.), tetapi kaum Salafi jusretu mengabaikan pendapat Mujahid yang ini dan menelan mentah-mentah pandapatnya yang lain.
Kasus lain ketidak jujuran kaum Salafi Mujassimah Musyabbihah, mereka menyanjung Mujahid yang pendapat miring yang dinisbatkan kepadanya dan mengecam habis-habisan siaipun yang berani menyentuh atau mencacat pendapat Mujahid, sementara itu ketika meerka menemukan Mujahid menafsirkan ayat -yang biasa mereka jadikan pijakan untuk mengatakan bahwa Allah itu dapat dilihat dengan mata kepala- dengan tafsiran yang menegsakan bahwa yang dimaksud adalah menanti anugrah dan pahala Allah (bukan melihat Allah), maka kaum Salafi Mujassimah segera mencampakkan Mujahid dan menganggapnya seakan tidak pernah ada dalam dunia tafsir dan akidah dan seakan pendapatnya adalah sekedar isapan jempol yang tak yalak dihraukan!!! Subhanallah!
Apakah ini yang namanya berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah?
Apakah ini yang duisebut konsiten di atas pendapat da akidah Salaf Shaleh? Atau jusretu sikap seperti itu adalah penyembahan terhadap hawa nafsu. Salah Shaleh hanya tunggangn yang dipakai saat berguna untuk mendukung kesesatan akidah mereka. Jika Salaf Shaleh kebanggaan mereka berseberangan dengan hawa nafsu mereka, mereka segera mencampakkannya di belakang punggung mereka… contoh paling nyata adalah sikap damai dan menyanjung terhadap Yazid yang penjagal keluarga Nabi Muhammad; Sayyinida Husain dan keluarganya di padang Karbala, sementara Imam kebanggan mereka; Imam Ahmad ibn Hanbal telah menegaskan dibolehkannya melaknat Yazid dan beliau pun telah melaknatnya! Namun apa yang kita saksikan dari kaum Salafi? Mereka membuang akidah Imam mereka di saat terbutki Imam mereka bersama kebanarann dan menyelisihi hawa nafsu kecintaan kepada kaum munafik yang sangat kental ada pada jiwa busuk mereka!!
C)    Ibnu Tamiyah Bapak Akidah Akidah Tajsîm
Dari keterangan Ibnu Jauzi yang kami sebutkan di atas dapat dimengerti betapa bahaya akidah tajsîm dalam mencoreng kemurnian akidah Tauhid dan ia berdampak kepada kekafiran. Dari sini tidak benar apabila kita bertoleransi dalam menyikapi akidah Tajsîm dan Tasybîh yang disebar-luaskan oleh kaum Mujassimah. Sebagaimana tidak benar pula apabila kita teledor dalam mebongkar kesesatan akidah tersebut. Sebab –disadari atau tidak, seorang Mujassim pada dasarnya mempertuhankan arca/shanam. Karenanya Imam Nawawi menegaskan dalam kitab al majmû’-nya,4/253:

فَمِمَّن يَكْفر مَنْ يجَسِّمُ اللهَ تَجْسيمًا صَرٍيحًا.

“Di antara kaum yang kafir adalah orang yang mentajsim Allah dengan tajsîm sharîh/terang.”
Dan setelah ini coba perhatikan penegasan tegas tentang akidah tajsîm yang disuarakan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya yang berjudul at Ta’sîs Fi Asâs at Taqdîs,1/101:
.

و ليس في كتاب الله ولا سنة رسولِه ولا قول أحد من سلف الأمة وأئمتها أنه ليس بجسمٍ , و أنّ صفاته ليست أجساما ولا أعراضا. ففِي نفيٍ المعاني الثابتة بالشرع و العقل بنفي ألفاظ لم ينف معناها شرعٌ ولا عقلٌ جهلٌ و ضلالٌ.

“Dan tidaklah dalam Kitab Allah (Alqur’an), Sunnah Rasul-Nya dan ucapan seorang dari kalangan Salaf dan para imam umat ini penegasan bahwa Allah itu bukan jism dan sifat-sifat-Nya bukan berupa jism atau bendawi. Maka menafikan makna-makna yang telah tetap berdasarkan Stara’ dan akal dengan menafikan lafadz-lafadz yang mana Syara’ dan akal tidak menafikannya adalah sebuah kajahilan dan kesesatan.”
Demi Allah renungkan apa yang katakan di sini, adakah kesamaran padanya akan kekentalan akidah tajsim? Kalau yang demikian itu belum dianggap tajsim, lalu pada yang bagaimana tajsim itu?!
Tidakkah cukup ayat yang sangat tegas yang menerangkan kepada kitab bahwa Allah SWT tidak menyerupai-Nya apapun dari ciptaan-Nya sebagai bukti tegas akidah Tauhid yang diajarkan Alqur’an?
Apakah Imam Ja’far ash Shadiq ra. yang berkata: “Barang siapa mengaku bahwa Allah itu bertempat pada sesuatu dari sesuatu atau di atas sesuatu maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah!! Sebab jika Dia bertempat di dalam sesuatu berarti ia terbatasi. Dan jika Dia berada di atas sesuatu beberti ia dipikul/mahmûl.. dan jika Dia berasal dari sesuatu maka berarti Dia ciptaan/muhdats.” itu bukan seorang tokoh Salaf dan imam umat ini, sehingga Ibnu Taimiyah tidak kengindahkan ucapannya?!
Apakah penegasan Abu Hanifah (murid Imam Ja’far ash Shadiq) bahwa: “Ada dua pendapat/akidah jahat yang datang dari negeri timur; Jahm datang membawa Ta’thîl dan Muqatil datang membawa Tasybîh.” Demikian disebutkan adz Dzahabi dalam Siyar A’lâm-nya[13]
Apakah Imam Abu Hanifah (yang wafat tahun 150 H) bukan seorang imam generasi Salaf?!
D) Jangan Mudah Tertipu Dengan Lebel Salaf!
Kaum Salafi Mujassimah –seperti sering saya katakan- selalu berbangga dengan akidah yang dicetuskan oleh orang-orang atau generasi yang mereka sebut dengan istilah Salaf. Ketika hendak meyakinkan kaum awam mereka selalu berboros-boros dalam menyebut nama-nama Salaf (tentunya yang menyesuai akidah Tajsîm/Tasybîh mereka), demi membangun opini bahwa demikianlah Akidah Islam sejati yang dijarkan genarasi Salaf Shaleh! Akan tetapi perlu dimengerti bahwa tidak semuaa Salaf itu Shaleh! Dan tidak semua Salaf Shaleh itu boleh dijadikan panutan dan diandalkan pendapat dan pandangannya, tidak juga harus disakralkan pemahaman agamanya! Bukankah sekte-sekte sesat lagi menyesatkan itu bermunculan di generasi Salaf yang mereka banggakan?
Jadi jangan mudah digertak dengan gertakan murahan!
Kalau memang mereka jujur dari klaim menyanjung pandangan dan pemahana Salaf Shaleh, lalu mengapakan mereka mencampakkan pandangan dan akidah Tauhid murni yang diajarkan oleh keluarha/Ahlul bait Nabi saw., seperti Sayyidina Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Husain, Sayyidina Imam Muhammad al Baqir putra Imam Zainal Abidin, Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq putra Imam Muhammad al Baqir ra.? Mengapa mereka tidak pernha menggubris ucapan dan mutiara hikmah mereka yang sarat dengan pengaungan Alah SWT dengan sifar-sifat kemaha sucian dan ajaran menyebarkan semerbak aaroma wangi konsep Tauhid musri?
Mengapa kalian kaum Salafi Mujassimah yang sok mengaku sebagai pawaris konsep Tauhid Salaf Shaleh tidak mau merenungkan kalimat nurani yang pernah disampaikan Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra.: Syaikhuna Syihâbuddîn ibnu Jahbal (w.733 H0)[14] –yang hidup sezaman dengan gempong sekte Mujassimah; Ibnu Taimiyah, yang menulis bantahan khusus atas kitab Aqidah al Hamawiyah al Kubrâ yang ditulis Ibnu Taimiyah- berkaata menukil kalimat Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra. Sebagai bantahan atas sikap Ibnu Taimiyah yang bersandar dalam masalah ‘Uluw/ketinggian fisikal Allah di atas Arsy-Nya kepada ucapan ulama biiasa dari generasi terbelakang, “Duhai anehnya dia (Ibnu Taimiyah) ini , bagaimana ia berhujjah dengan uccapan orang itu dan meninggalkan pribadi agung seperti Ja’far ash Shadiq….
Setelahnya ia menyebutkan kalimat Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra.:Dan Sang pemilik kedudukan agung, nasab yang mulia, penghulu para ulama, pewaris tunggal Khairul Anbiyâ’; Ja’far ash Shadiq –semoga keridahaan Allah atasnya- telah berkata:
.

مَن زعم أنَّ اللهَ في شيئٍ, أو من شيئٍ, أو على شيئٍ فقد أشرك!! إذ لو كان في شيئٍ لكان محصورًا, لو كان على شيئٍ لكان مَحْمولاً, لو كان من شيئٍ لكان مَحْدثًا.

.
“Barang siapa mengaku bahwa Allah itu bertempat pada sesuatu dari sesuatu atau di atas sesuatu maka ia benar-benar telah menyekutukan Allah!! Sebab jika Dia bertempat di dalam sesuatu berarti ia terbatasi. Dan jika Dia berada di atas sesuatu beberti ia dipikul/mahmûl.. dan jika Dia berasal dari sesuatu maka berarti Dia ciptaan/muhdats.”
Abu Salafy berkata:
Karena kalimat dan mutiarah hikmah penuh makna yang selalu terucap dari mulut-mulut suci hamba-hamba pilihan Allah dari keturunan Nabi Muhammad saw. ini kurang digemari oleh kaum Wahhâbi/Salafi Mujassimahh Musyabbihah, maka pasti mereka akan sangat keberatan mendengarnya apalagi menerima dan menjadikannya sebagai hujjah dan panutan dalam agama… Dan pasti akan segera mencari-cari serinu alasan untuk mencampakkannya dan menuduh penukilnya sebagai Syi’ah Rafidhah atau paling tidak terpengaruh ajaran dan doktrin ajaran Syi’ah!!
Tetapi jika Anda menukil sebuah ucapan dari Ka’ab al Ahbâr, Muqatil ibn Sulaiman, Ikirimah dkk..maka mereka akan mengacungkan jempol dan memuji Anda sebagai penyandang akidah tauhid murni, berada di atas Sunnah wal Jama’ah dan pernganut Salafi sejati!
Kalimat Sayyidina Imam Ja’far ash Shadiq ra. Sekali gus sebagai bantahan atas klaim palsu Ibnu Taimiyah yang saya sebutkan pada poin sebelumnya.
Penutup
Dari pemaparan panjang, menjemukan dan yang pasti juga menyebalkan di atas (yang hanya karena terpaksa kami sebutkan dengan sedikit terinci, agar pembaca melihat langsung akitivis sekte Mujassimah yang nama-nama mereka sering dipakai senjata untuk mnipu dan/atau menakut-nakuti kaum awam dan para pemuda yang baru terjaring dalam sindikat halaqah-halaqah pengajian Sekte Muajssimah berkedok) … dari pemaparan di atas Anda dapat menyaksikan bgaimana akal sehat diperkosa, logika waras dipecundangi… dan kesimpulan dungu dipaksakan serta vonis ugal-ugalan ditajatuhkan atas para ulama yang bersikeras mensucikan Allah SWT dari penggambaran bodoh yang diyakini sebagai akidah oleh kaum penyimpang; kaum Mujassimah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar